Siaran Pers: IAI IFRS Conference, Perubahan Standar Keuangan Global Berpotensi Goncang Dunia Bisnis di Indonesia



Jakarta (25/6) - Sebagai negara G-20 dan perekonomian terbesar ke-16 di dunia, Indonesia kini merupakan bagian dari komunitas bisnis global yang semakin terintegrasi. Dengan kondisi seperti itu, perekonomian Indonesia akan makin terkoneksi dengan perekonomian global. Karenanya, Indonesia pun harus menggunakan bahasa bisnis yang sama dengan best practice global. Demikian dikatakan Anggota Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia (DPN IAI), Ito Warsito, dalam pembukaan IAI IFRS International Conference 2016 bertema IFRS Beyond 2018: The Changing Lanscape of Financial  Reporting, di Ritz Carlton, Jakarta, hari ini.

Dalam aspek standar akuntansi dan keuangan, Indonesia harus menggunakan standar akuntansi dan keuangan yang berlaku dan diterima di seluruh dunia. Itulah kenapa Indonesia dalam beberapa tahun belakangan semakin gencar mempromosikan penggunaan standar akuntansi keuangan yang telah berkonvergensi dengan IFRS di entitas publik di Indonesia. Saat ini di Indonesia berlaku Standar Akuntansi Keuangan (SAK) per efektif 1 Januari 2015 yang secara substansial telah berkonvergensi dengan IFRS yang berlaku efektif per 1 Januari 2014.

Beberapa standar akuntansi keuangan berbasis IFRS telah mengalami perubahan yang signifikan dan berpotensi menciptakan goncangan besar bagi dunia bisnis, seperti pada saat konvergensi IFRS yang pertama pada 2012 lalu. Sekadar contoh, standar baru instrumen keuangan IFRS 9 menawarkan perubahan mendasar pada klasifikasi, penurunan nilai dan lindung nilai akuntansi dari standar sebelumnya. Standar tentang pengakuan pendapatan yang baru, IFRS 15, mengharuskan perusahaan untuk melihat dengan seksama pada kontrak mereka dengan pelanggan. Standar baru tentang Sewa mungkin mengharuskan perusahaan untuk mengakui kewajiban lainnya di neraca yang sebelumnya dapat dihindari dengan menggunakan sewa operasi.

IAI sebagai standard setter di Indonesia, melalui Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK-IAI) telah berkomitmen untuk menjaga gap antara IFRS dan PSAK hanya untuk satu tahun. Implikasinya, banyak standar baru yang dikeluarkan oleh IASB yang akan efektif pada tahun 2018, harus diadopsi di Indonesia pada 2019. 

Dengan gap yang semakin singkat, banyak hal yang harus  dilakukan agar dunia bisnis Indonesia tidak kembali bergejolak diakibatkan oleh dinamika standar akuntansi keuangan global. Perubahan standar global ini pasti akan menimbulkan dampak yang signifikan bagi entitas-entitas di Indonesia. Karena itu preparers Laporan Keuangan dan auditor di Indonesia perlu membekali diri dengan standar-standar baru ini sedini mungkin untuk memastikan kelancaran transisi dalam sistem bisnis mereka.

Seminar yang diselenggarakan IAI hari ini, akan memberikan update terbaru dari IFRS yang langsung dibawakan para anggota IASB, anggota DSAK IAI, para profesional dari industri yang relevan, serta tentunya dari pihak regulator. Seminar ini dirancang untuk preparers laporan keuangan, konsultan dan auditor yang ingin satu langkah di depan dari pesaing mereka dalam mempersiapkan diri untuk perubahan lanskap pelaporan keuangan di 2018/2019.

Pada hari ini juga ditandatangani Komunike bersama antara IAI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan IFRS Foundation. Dalam komunike itu disepakati jika IAI dan OJK terus berkomitmen untuk melanjutkan proses konvergensi IFRS Indonesia. IFRS Foundation juga memberikan dukungan agar Indonesia melanjutkan program konvergensi ini. Dukungan ini terutama diberikan kepada OJK dan IAI sebagai standard setter.


Informasi tentang IAI bisa menghubungi 021 31904232 atau kunjungi situs www.iaiglobal.or.id

File Lampiran:


Isi Komentar

Nama Lengkap
@
Masukkan kode di atas

Komentar

© IKATAN AKUNTAN INDONESIA 2019