(Laporan Utama): “Powerhouse Akuntan Indonesia”

“Powerhouse Akuntan Indonesia”

 

Akuntan Indonesia merupakan sebuah powerhouse kebangsaan. Dia iconic dan memiliki potensi besar. Karenanya akuntan bukan sekedar lapangan pekerjaan, dan juga bukan sebatas pengonversi data menjadi keputusan ekonomi. Dia memberi nilai tambah atas kepemilikan sumber daya nasional untuk meningkatkan reputasi negeri di kancah global. Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), strategi entrepreneurship akuntan Indonesia harus mengedepankan konsep blue ocean

 

Merujuk analogi Pengamat Manajemen Indonesia Prof. Rhenald Kasali, terminologi powerhouse dapat diibaratkan seperti gambaran seekor gajah. Gajah melambangkan kejujuran, kejernihan berpikir dan keagungan. Dia selalu siap mendengar dan membantu. Daun telinga lebar dan mulut tetap kecil menandakan bahwa gajah adalah makhluk sedikit bicara dan banyak mendengar. Dia sosok menyenangkan dibalik badan besar dan tenaga kuat.

Tak mengherankan bila gajah kemudian dapat menjadi gajah perang yang penuh gairah untuk menunjukkan kemampuan dan kegigihan dalam mengalahkan rival-rivalnya. Dia memiliki semangat, kreatif dan inovatif.  tapi pada sisi lain dia dapat pula bermetamorfosis menjadi gajah gemuk, malas, lamban, menyulitkan banyak orang serta mengalami hidup yang berat dan terjebak dalam zona krisis.

Akuntan Indonesia dapat menjadi powerhouse luar biasa. Tapi juga dapat berujung power house yang mengalami krisis dalam iklim kompetisi bisnis, tata kelola pemerintahan dan dinamika kehidupan sosial kemasyarakatan. Semuanya bergantung dengan opsi posisi, orientasi serta strategi yang ditempuh dalam menunjukkan eksistensi akuntan.

Untuk menjadi power house kebangsaan, kalangan keprofesian dapat menerapkan konsep strategi, value dan spirit OCEAN yang ditawarkan Guru Besar Universitas Indonesia Prof. Rhenald Kasali. OCEAN merupakan singkatan dari Opennes to experience, conscientiousness, extroversion, agreeableness dan neuroticsm.  Opennes to experience berarti keterbukaan pikiran khususnya terhadap hal-hal baru, hal-hal yang dialami dan dilihat dengan mata sendiri, sementara conscientiousness merupakan ajakan untuk membuka hati dan telinga dan kesadaran penuh untuk mendengarkan baik yang terdengar maupun yang dirasakan.  Extroversion menunjukkan keterbukaan diri terhadap orang lain ,kebersamaan dan hubungan-hubungan, Agreeableness melambangkan keterbukaan terhadap kesepakatan atau tidak mudah memilih konflik, sedangkan neuroticsm keterbukaan terhadap tekanan-tekanan. 

Benang merahnya adalah semangat sinergitas dan kolaborasi dengan mengedepankan karakteristik ala sang gajah seperti kejujuran (integritas), kejernihan berpikir (objektifitas) dan keagungan (trust dan pride). Bila akuntan menjalankan etika-etika bisnis terpuji dalam menyediakan jasa berkualitas dan bermanfaat bagi user, maka kinerja keprofesian bakal diapresiasi, langgeng dan dibutuhkan.

Sementara jika akuntan menerapkan strategi binis kurang patut dan tidak memiliki kegunaan besar di tengah masyarakat, maka profesi bakal mengalami masa-masa kelam penuh dengan pergunjingan dengan kekhawatiran. Artinya, bila akuntan berorientasi jangka panjang maka pondasi strategi dari bisnis mereka seyogianya berpijak pada etika, komitmen profesionalisme,  prestasi kualitas, ketaatan terhadap regulasi dan semangat untuk memberikan nilai tambah bagi klien mereka.

Jadi penekanannya bukan pada pertimbangan pragmatis jangka pendek dengan mengedepankan pada kebijakan persaingan harga rendah atau bergesekan dengan kompetitor secara face to face (red ocean strategy).

 

Individu Alpha : Individu Unggulan Powerhouse

Dalam buku Mutasi DNA Powerhouse (2008), Rhenald Kasali mengutarakan keunggulan memang bukanlah ‘keberuntungan’ banyak orang. Tidak semua individu memiliki keistimewaan kompetensi, kekuatan mental, komitmen kepemimpinan, ketangguhan ketekunan, kepiawaian mempengaruhi dan mengejutkan serta sebuah daya juang cita-cita. Namun jumlah terbatas, bukanlah aral. Dia memang onak, tapi dia justru pesan, hikmah dan energi baru di tengah krisis. Ekonom Italia Wilfredo Pareto telah mengajarkan konsep menarik dan bertuah tentang Law of The Few yang menegaskan 20% usaha dapat berkontribusi 80% atas hasil korporasi.

Kehadiran 20% populasi individu berkualitas alpha merupakan katalisator untuk memendarkan cahaya harapan dan menggelorakan semangat perubahan dalam mencetak prestasi kinerja 80% korporasi yang membanggakan jejak rekam manajemen dan memuaskan sejarah bisnis. Profesionalitas dan tanggungjawab moral mereka dalam mengemban kemajuan, membuat individu alpha menebar manfaat dan inspirasi di tengah publik.  Mereka tidak hanya menjadi agent of change, agent of development, agent of growth and prospertity, tapi juga agent of dream and vision. Kata Alpha merupakan salah satu kosakata dari Bahasa Yunani yang berarti nomor satu, paling tangguh, unggul, superior dan terbaik.

Apakah akuntan dapat menjadi individu aplha? Rhenald mengutip Ludeman dan Erlandson (2006) menjabarkan bahwa elemen-elemen DNA individu Alpha yang pertama adalah berorientasi pada kinerja visi dan misi sehingga mereka mampu memobilisasi energi untuk perubahan dan menginspirasi orang lain untuk bergerak dalam perubahan. Kedua, dia juga sosok percaya diri sehingga berani memimpin dalam keadaan sulit, menstimulasi budaya bicara terbuka dan mendorong orang lain dan organisasi menuju perubahan dan kinerja. Ketiga dia bertanggungjawab sehingga bersedia menerima resiko kegagalan sebagai proses belajar dan mengerahkan tim dan rekan sekerja untuk berorientasi pada hasil.

Selanjutnya DNA sang alpha adalah believing is seeing yang menggambarkan optimisme dalam lingkungan pesimis sekalipun, berorientasi masa depan, dan mempercepat internalisasi nilai-nilai baru. Dia juga persisten dan determinan yang menunjukkan figur senang dengan tantangan, mengatasi hambatan, dan berani tidak populer untuk mencapai hasil. Tak hanya itu, mereka kompetitif dan agresif yang menegaskan keinginan besar untuk berhasil dan mendorong tim dan rekan kerja untuk berhasil.

Sosok alpha juga tidak mudah tertekan dalam menghadapi konflik karena mereka menghargai perbedaan dan menyukai perdebatan untuk mencapai konsensus. Oleh karena itu mereka terbuka dan tegas yang membuat populasi tersebut berorientasi pada hasil, memiliki orisinalitas, dan membuka hubungan yang terbuka dengan sekeliling. Terakhir mereka cerdas dan variatif dengan memberikan variasi keragaman bagi sekeliling, menemukan “pintu-pintu” setiap kali menghadapi “tembok” kesulitan serta mampu melihat lebih jauh daripada sekelilingnya.

Pentas MEA adalah kompetisi krusial. Akuntan  harus mengidentifikasi peluang dan membaca hikmah di balik semua perubahan-perubahan zaman. Apalagi tren keuangan masa mendatang berbasis financial technology. Tentu saja hal tersebut harus dianalisa dan diantisipasi, agar akuntan dapat mengarungi perkembangan zaman, dan tidak melulu menggunakan metode konvensional dengan strategi old style (usang) semisal strategi mengobral harga jasa di tengah pasar.

Dari sisi model bisnis, jasa semisal audit atas laporan keuangan memang susah untuk di-diferensiasi dengan jenis jasa yang diberikan oleh masing-masing Kantor Akuntan Publik (KAP). Di sisi lain, untuk menentukan kualitas juga bukanlah sesuatu  yang  mudah untuk dibuktikan.

Akuntan harus memiliki semangat entrepreneurship agar dapat menunjukkan eksistensi lebih besar, melakukan penetrasi pasar dan berhasil dalam pengembangan bisnis. Tidak hanya dari jasa audit, dari sisi non assurance bisa dijajaki peluang semisal konsultan bisnis dan konsultan manajemen dengan menerapkan strategi segmenting, targeting, positioning (STP).

Untuk posisi managing partner kapasitas soft skill harus diunggulkan ketika bersaing dengan individu luar negeri. Kemampuan membuka network dan menjalin kolaborasi dengan anykind of bussiness, harus dipacu  karena arah-arahnya nanti tidak akan ada satu perusahan yang dapat ber-swasembada dan tentunya harus berkolaborasi dengan berbagai jenis bidang usaha untuk mendorong kemajuan bisnis perusahaan.

Sinergitas penting dalam membangun kinerja keprofesian di tengah masyarakat. Dia berkeyakinan tanpa pendekatan lebih persuasif dan intens humanis maka berpeluang muncul resistensi atau pengabaian dari kalangan masyarakat terhadap standar-standar kinerja kalangan keprofesian. Karena dia mengingatkan bahwa etika profesi haruus dikedepankan dalam menunaikan tanggungjawab keprofesian. Dia mengatakan value dari jasa keprofesian lahir dari pelaksanaan tanggungjawab etika kepada stake holders. (ETR/ERV/AFM)

 

(Tulisan ini telah terbit di Majalah Akuntan Indonesia Edisi Oktober – November 2015)

 

CA, Tentukan Kesuksesanmu!

File Lampiran:


Isi Komentar

Nama Lengkap
@
Masukkan kode di atas

Komentar

© IKATAN AKUNTAN INDONESIA 2019