Akuntan Profesional di Kabinet, Jaminan Transparansi, Integritas, dan Profesionalisme

Kabinet Kerja yang dibentuk Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan makin pentingnya aspek transparansi dan profesionalisme dalam kepemimpinan nasional. Empat Akuntan Profesional pemegang sertifikasi Chartered Accountant (CA) terpilih menjadi anggota kabinet baru ini.


Keempatnya adalah Prof. Mardiasmo, Ak., CA menjadi Wakil Menteri Keuangan, Sudirman Said, MBA., CA menduduki kursi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, MBA., CA yang dipercaya menjadi Menteri Perhubungan, dan Prof. M. Nasir, Ak., CA yang menjadi Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. 


“Ini merupakan sejarah baru dimana empat orang Akuntan Profesional duduk di dalam kabinet. Ini kebanggaan bagi profesi akuntan, sekaligus momentum untuk berbuat lebih baik lagi ke depan,” ujar Direktur Eksekutif IAI, Elly Zarni Husin, Ak., CA. “Jelas bagi kita, nilai-nilai profesi yang selalu mengedepankan integritas, kapabilitas, dan profesionalisme, akan semakin mendapat tempat di segala bidang kehidupan bernegara,” tambahnya.


Sebagai Akuntan Profesional anggota IAI, keempatnya hingga saat ini merupakan pengurus aktif IAI. Prof. Mardiasmo adalah Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI dan Sudirman Said juga masih aktif sebagai Anggota DPN IAI. Sementara Ignasius Jonan adalah Anggota Komite Etika IAI, dan M. Nasir adalah Penasihat IAI Wilayah Jawa Tengah dan mantan Ketua IAI Kompartemen Akuntan Pendidik.


Penunjukan keempat Akuntan Profesional ini di tampuk kepemimpinan nasional, jelas telah menjadi sebuah milestone bagi profesi akuntan di Indonesia. Mereka akan terlibat dalam membangun Indonesia lewat gerakan revolusi mental yang digagas Presiden Joko Widodo. Kini Indonesia bersiap memasuki tahap baru, yakni tahap implementasi dan kerja keras mengejar ketertinggalan.


Keriuhan hajatan nasional itu kini makin melibatkan Akuntan Profesional. Setelah terlibat dan memberikan kontribusi signifikan pada prosesnya, kini mereka juga terlibat langsung di sentral pembangunan, untuk mengawal pembangunan bangsa ini terjadi dengan efektif dan efisien.


57 tahun sudah profesi akuntan mewarnai perjalanan bangsa ini. Kini profesi akuntan di Indonesia melangkah maju dengan penuh percaya diri memasuki terra incognita, sebuah wilayah baru yang belum pernah dijelajahi sebelumnya, sebuah wilayah baru yang menjanjikan peluang dan prospek tak terbatas!


Ini semakin memberi bukti, sudah bukan masanya lagi seorang Akuntan Profesional bercita-cita hanya sebagai tenaga akuntansi dan keuangan. Stereotype akuntan sebagai seorang bean counter harus ditinggalkan. Seorang akuntan profesional adalah aspiring leader. Akuntan Profesional adalah pemimpin!

 

Prof. Mardiasmo, Ak., CA (Ketua Dewan Pengurus Nasional IAI)


“Menjadi pemimpin itu syaratnya harus berintegritas dan memiliki kapabilitas yang cukup. Dua hal itu dimiliki oleh akuntan, yang  sejak awal telah dididik untuk memiliki integritas dan kapabilitas sebagai profesional,” demikian diungkapkan Prof. Mardiasmo, Ak., CA. Ketua Dewan Pengurus Nasional IAI sejak 2010 itu kini dipercaya menjadi Wakil Menteri Keuangan, sebuah jabatan prestisius yang akan ikut menentukan kemajuan perekonomian bangsa ini ke depan.


Mardiasmo selalu mengungkapkan jika integritas adalah kunci kesuksesannya. Profesinya sebagai akuntan lah yang telah menempanya menjadi sosok seperti sekarang. Mardiasmo meyakini, pengangkatannya sebagai orang nomor 2 di Kementerian Keuangan, tidak terlepas dari integritas dan kapabilitasnya sebagai seorang akuntan. Baginya, seorang akuntan yang berintegritas tinggi, akan menjadi penangkal aksi-aksi korupsi. “Mari kita semua junjung tinggi integritas. Sehingga kita dapat menjalankan APBN ini sampai ke tujuannya berdasar dengan nilai yang ditetapkan,” ajaknya.


Prof. Mardiasmo, Ak., CA yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) ini adalah lulusan S1 Akuntansi dari Universitas Gadjah Mada tahun 1981. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 Master of Business Administration (MBA) dari University of Bridgeport, Connecticut, USA dan mendapat gelar doktor dari School of Public Policy, University of Birmingham Inggris. Selanjutnya, pria kelahiran Solo 1958 ini meraih gelar guru besar bidang akuntansi dari UGM.

 

Sudirman Said, MBA., Ak., CA (Anggota DPN IAI)


“Profesi akuntan adalah the guardian of public interest,” ujar Sudirman Said. Itu terjadi karena profesi akuntan selalu mengedepankan etika dan integritas, tambahnya. Karena itu, dimanapun ia berada, prinsip itu selalu dibawa serta. Menurutnya, ketika menduduki jabatan tertentu, seorang akuntan selalu memiliki tanggung jawab moral untuk menaati standar kerja yang telah ditetapkan.


Akuntan Profesional yang kini menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ini adalah Anggota Dewan Pengurus Nasional IAI periode 2010-2014. Di profesi akuntan, Sudirman telah mencatatkan namanya dalam sejarah IAI. Sudirman tercatat sebagai Direktur Eksekutif IAI untuk periode 1996-1999. Selebihnya, banyak waktu yang ia habiskan sebagai pegiat kemanusiaan dengan menjadi salah satu pimpinan program rehabilitasi Aceh-Nias dan aktivis anti korupsi sebagai Ketua Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI).


Sudirman adalah lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan memperoleh  gelar MBA dari University George Washington, AS.


Ignasius Jonan MBA., CA (Anggota Komite Etika IAI) 


Ignasius Jonan adalah anggota Komite Etika IAI yang bertugas mengawal penegakan etika profesi di lingkungan anggota IAI. Ketegasannya seperti tergambar ketika dia memimpin PT KAI Persero, dibutuhkan untuk membawa organisasi profesi sebesar IAI menjadi lebih bermartabat dan berwibawa dalam rangka terus mengisi dan menjaga keberlanjutan pembangunan negeri ini.


Di luar itu, Jonan adalah seorang akuntan sejati yang selalu mengedepankan prinsip-prinsip transparansi dan good governance di setiap aktivitasnya. Di dunia akuntan, Jonan telah mengangkat citra akuntan atas berbagai pencapaiannya yang gemilang. Berkat prestasinya, Jonan pun dinobatkan sebagai peraih anugerah Akuntan of the Year 2013. Sebagai seorang akuntan, Jonan dipandang memiliki dedikasi dan inovasi yang luar biasa yang mampu mengubah industri kereta api Indonesia menjadi jauh lebih tertata, ketika puluhan pimpinan dari berbagai latar belakang tidak mampu melakukannya.


Dengan perhitungan yang cermat, teliti, dan berlandaskan pada prinsip transparansi dan good governance, Jonan berhasil mengubah image PT KAI dari “kumuh, semrawut, merugi” menjadi salah satu BUMN bergelimang penghargaan, dan tentu saja “untung”. “Semua keberhasilan itu tidak terlepas dari latar belakang saya sebagai akuntan. Karena ilmu akuntan itu selalu mengedepankan akal sehat, sehingga kita diajak berpikir realistis dan membuat keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada,” ungkap Jonan. 


Kini, akuntan lulusan Universitas Airlangga, Surabaya yang mampu mengubah wajah Indonesia lewat perkeretaapian ini, telah memperoleh amanat dan kepercayaan untuk membenahi dunia perhubungan dan transportasi di negeri ini.


Prof. M. Nasir, Ak., CA (Penasihat IAI Wilayah Jawa Tengah dan Mantan Ketua IAI KAPd) 


Prof. Mohammad Nasir adalah Penasihat IAI Wilayah Jawa Tengah dan mantan Ketua IAI Kompartemen Akuntan Pendidik (IAI KAPd) periode 2010-2012. Di bawah kepemimpinan Nasir, riset-riset akuntansi di lingkungan akuntan pendidik dapat berkembang dengan baik.

Akuntan Profesional lulusan Universitas Diponegoro, Semarang ini adalah pakar anggaran. Sebelum Presiden Joko Widodo memasukkannya dalam jajaran kabinet kerja, Nasir telah didaulat menjadi Rektor di Universitas tersebut dan baru akan dilantik pada Desember 2014. 


Pria yang lahir di Ngawi, 54 tahun silam ini menamatkan pendidikan akuntansinya di Fakultas Ekonomi Undip pada 1988. Prestasi gemilang pun mampu ia buktikan dengan meraih gelar profesor di bidang Behavioral Accounting and Management Accounting. Untuk memberikan dedikasinya kepada profesi akuntan, Nasir duduk dalam kepengurusan IAI sebagai penasihat IAI wilayah Jawa Tengah, dan pernah menjabat Ketua IAI KAPd priode 2010-2012.


Setelah mengantongi gelar doktor dari University of Science di Penang, Malaysia, Nasir pernah menjabat sebagai pembantu rektor II di Undip, dan terpilih sebagai dekan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Pada 9 September 2014 lalu, Nasir terpilih sebagai Rektor Undip menggantikan Sudharto. Namun ia baru akan menjalankan tugasnya mulai 18 Desember mendatang.


Cita-cita Nasir sebagai rektor adalah membuat universitasnya berkembang sebagai perguruan tinggi yang berbasis riset. Dalam bidang kemahasiswaan, ia juga bercita-cita membentuk komunitas peneliti mahasiswa. Bak gayung bersambut, kini profesor akuntansi  ini  justru mendapat kepercayaan untuk mewujudkan cita-citanya tersebut di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

  • 03 November 2014

© IKATAN AKUNTAN INDONESIA 2018